Makassar // Batasnews.id – Peneliti politik independen, Mudatsir Rasid, memberikan tanggapan keras terhadap analisis Prof Sukri Tamma, pengamat politik dari Universitas Hasanuddin (Unhas), terkait hasil Pilkada Kabupaten Takalar. Menurut Mudatsir, pandangan Prof Sukri yang menyimpulkan kekalahan inkumben Syamsari Kitta sebagai akibat dari kekecewaan masyarakat dan janji politik yang tidak terealisasi, dinilai sebagai sentimen emosional dan bukan analisis akademis berbasis data.

Mudatsir menyatakan bahwa kesimpulan Prof Sukri mengabaikan proses Pilkada secara utuh dan hanya berfokus pada hasil akhir. “Hasil Pilkada adalah dampak dari sebuah proses. Jika prosesnya tidak dicermati, maka kesimpulan yang diambil menjadi tidak komprehensif dan rentan bias. Hipotesis Prof Sukri menurut saya sangat rancu,” ujar Mudatsir.

Dia juga mengungkapkan dugaan adanya anomali dalam proses Pilkada Takalar. Ia menyoroti berbagai keganjilan yang terjadi selama tahapan Pilkada hingga hari pemungutan suara. Menurutnya, ada gerakan “underground” yang melibatkan sumber daya dan struktur pemerintahan secara masif untuk mendukung salah satu pasangan calon (Paslon).

“Dua minggu menjelang hari pencoblosan, muncul gerakan terselubung yang memanfaatkan struktur pemerintahan dan sumber daya negara. Suara yang diperoleh Paslon 1 adalah dampak dari operasi terstruktur, sistematis, dan masif (TSM),” tegas Mudatsir.

Ia menambahkan, dugaan ini didukung oleh laporan tim hukum Paslon 2 yang telah menyerahkan ratusan bukti kepada pihak berwenang, termasuk keterlibatan aparatur sipil negara (ASN) dan perangkat desa dalam mendukung Paslon 1. “Bukti-bukti ini memperlihatkan bahwa Pilkada Takalar tidak berjalan secara fair,” lanjutnya.

Sebagai peneliti, Mudatsir juga merujuk pada hasil survei yang dirilis PT Indeks Politika Indonesia (IPI) pada 19 November 2024. Dalam survei tersebut, Paslon 1, DM-HHY, unggul dengan selisih elektabilitas 8,6 persen dibandingkan Paslon 2. Survei ini menilai bahwa isu putra daerah menjadi faktor utama yang mendongkrak elektabilitas Paslon 2, terutama di akar rumput. Namun, hasil akhir Pilkada justru bertolak belakang, yang menurut Mudatsir menjadi indikasi adanya faktor lain yang memengaruhi suara masyarakat.

Mudatsir juga menekankan pentingnya integritas akademis dalam memberikan analisis politik. Ia menyayangkan pernyataan Prof Sukri yang dianggap lebih bersifat opini pribadi dibandingkan analisis berbasis data. “Pernyataan seorang akademisi seharusnya didukung oleh data yang kuat sebagai dasar analisis, bukan sekadar sentimen,” kritiknya.

Dalam analisisnya, Mudatsir menggambarkan dinamika Pilkada Takalar sebagai situasi unik, di mana inkumben Syamsari Kitta terasa seperti penantang, sedangkan Paslon DM-HHY terlihat seperti inkumben karena dukungan kuat dari sumber daya pemerintah daerah. “Situasi ini menunjukkan bagaimana kekuatan struktural digunakan untuk mempengaruhi hasil Pilkada,” pungkasnya.

#Red…

Tinggalkan komentar

Recent posts

Quote of the week

Sederhana Saja dan tak perlu menampakkan diri untuk disegani, Tak perlu cari muka untuk dikagumi, cukup diam dan jalani.”

~ Adv.Mirwan.,SH.,MH

@2026 Buat situs web atau blog di WordPress.com id – Hak Cipta Dilindungi Undang-undang